Awas... Bahaya Gozwul Fikr
Friday, 1 September 2017 16:14
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.



Sejak Nabi Adam tercipta, tercipta pula rasa dengki di hati iblis. Iblis adalah salah satu dari hamba Allah yang tercipta berbeda dari malaikat dan makhluk Allah yang lain. Berjuta tahun dihabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah namun hangus tak berbekas dilahap iri dan dengki terhadap adam, makhluk baru yang Allah ciptakan dari tanah. Ibadah dan mahabbahnya kepada Allah, tak mampu menghadirkan kerendahan hati dan keihklasan sehingga tinggilah hatinya melihat kasih sayang Allah kepada adam. Enggan sujud kepada adam dan membangkang perintah Allah sehingga terusir dari surga dan terkutuk hingga datang hari kiamat.

 


Semenjak terusir, dimulailah genderang perang kepada adam dan anak keturunannya. Bersumpah iblis bahwa tidak akan beristirahat ia hingga seluruh anak cucu adam terpedaya dan tergoda bujuk rayunya. Hingga kini, sadar atau tidak, iblis, setan dan bala tentaranya masih memperdaya kita. Mereka hadir dalam wujud manusia-manusia sekuler, plural dan liberal, mengusung kebebasan HAM, mendistorsi sejarah, mengobarkan peperangan, baik fisik maupun pikiran (gozwul fikr) dan menuhankan materi.  


Telah nyata ramalan Rasulullah Saw, bahwa pada suatu masa mendekati akhir zaman, umat islam berjumlah sangat banyak, namun lemah, tak ubah buih di lautan, terombang ambing tanpa daya, mengikut arus, terhempas dan hilang dipecah ombak. Musuh-musuh islam sangat paham, bahwa menghancurkan islam tidak bisa dengan angkat senjata atau dengan terang-terangan mengajak murtad. Bahkan muslim awam sekalipun bisa angkat golok kalau islam dihina. Maka sejak ratusan tahun lalu semenjak Eropa bangkit dari dark age menuju renassains nya, mereka merilis tri G (Gold, Glory, Gospel) sebagai misi utama menghancurkan peradaban islam ke seluruh penjuru dunia.

 


Di awal abad ini, eksistensi tri G mulai terkikis seiring dengan bangkitnya negara-negara berkembang dan melesatnya ilmu pengetahuan. Strategi baru dimunculkan untuk tetap melestarikan misi iblis. Dirilislah four F (food, fashion, film and framework). Makanan yang halal dan toyyib merupakan pilar penting agar ruh dan jasmani kita tetap sehat. Namun sekarang, makanan tidak sehat memenuhi pasar hingga grand mall. Dikemas menarik dan attraktif. Judulnya snack mie tapi bungkusnya gambar bikini, ada apa ini? Begitu pula trend fashion dan film, kalau dulu western minded tapi sekarang tambah korean dan japanese minded. Boyband dan girlband jadi idola, lagu-lagunya dielu-elukan, gaya rambut sampai ujung kaki jadi panutan padahal Rasulullah Saw sudah mengingatkan, barang siapa yang meniru perilaku orang-orang kafir, maka ia bagian darinya. Narkoba, pornografi, seks bebas dan kekerasan adalah akibat dari kendornya peran orang tua dan hasil didikan film dan sinetron sampah yang ditonton beratus-ratus episode.  


Tak pelak, remaja kita yang benteng keluarganya rapuh terhanyut. Jangan tanya sholat dan mengajinya, mungkin rukun iman dan rukun islam saja tidak hafal. Inilah sasaran utama dari pada perang pemikiran yang dilancarkan iblis dan bala tentaranya. Anak-anak dan remaja kita, semenjak belia sudah dihujani dengan triple F, jadilah mereka generasi pembangkang atas nama kebebasan dan hak asasi manusia. Labil dan tidak bertanggung jawab, apatis, cuek dan tidak empati, bagaimana generasi yang seperti ini bisa menjadi pemimpin umat?. Maka ketika telah dewasa, mudah sekali dicekoki dengan paham-paham sekularis, liberalis, pluralis, komunis dan kapitalis. Berlanjut efek negatif dari triple F ini adalah ketika generasi labil ini menjadi orang tua. Bagi orang tua menengah ke atas, mereka berlomba-lomba memasukkan anak-anaknya ke sekolah favorit, tidak peduli label nya apa. Menjejali mereka dengan berbagai mainan, mewajibkan anak-anak dengan les ini itu yang belum penting. Jika anaknya berhijrah ke hijab dan pemahaman islam yang sesuai sunnah, orang tua mewaspadai. Jangan panjang-panjang jilbabnya nanti nggak laku, pake baju jangan gede-gede kayak mau pengajian. Umur segini kok belum punya pacar?   


Belum lagi budaya permissive yang tampak sangat manis dan toleran. Inilah yang mendasari lahirnya F yang keempat yaitu framework (kerangka berpikir). Para remaja khusunya yang mulai mencari identitas diri jangan sampai salah tujuan. Tidak ada tujuan hidup ini selain mencari keridhaan Ilahi. Latihlah cara berpikir dan bertindak dengan landasan keimanan dan ketakwaan yang kuat. Jangan mudah percaya dengan apa yang datang dari orang-orang non muslim yang kelihatannya baik, karena Allah telah berpesan “jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita maka carilah kebenarannya”. Lewat media masa dan internet, misi merusak cara berpikir ini dikobarkan. Siapa bilang pacaran nggak boleh dalam Islam? Yang nggak boleh itu zina, asal tidak berduaan dan pegang-pegangan boleh saja pacaran ala islami, begitulah labelnya. Padahal yang benar jangan mendekati zina, begitu jelasnya perintah Allah, dan pacaran termasuk sarana menuju kepada perzinahan. Tidak apalah punya pemimpin kafir, lebih baik pemimpin kafir tapi adil dan tidak korupsi daripada pemimpin muslim tapi korupsi. Padahal lebih baik pemimpin muslim yang adil dan tidak korupsi. Dan begitulah mereka membolak-balik logika berpikir kita, yang haq disuruh mengikut yang batil dan yang haram dilabeli halal.  



Setiap peperangan membutuhkan bekal dan persenjataan yang banyak, agar kita menang melawan musuh-musuh Allah. Demikian pula dengan perang pemikiran ini, bukanlah senjata rudal atau bom atom, namun beberapa persenjataan yang perlu kita persiapkan dan miliki adalah sebagai berikut:

  1. Kuatkan pondasi aqidah sedari dini, dimulai dari keluarga kemudian sekolah dan lingkungan masyarakat
  2. Mengembalikan pedoman hidup kepada Al-Quran dan Hadis
  3. Mengkaji ilmu-ilmu keislaman, bukan hanya fiqh tapi juga sejarah, pemikiran, perekonomian, hukum, hukum keluarga dan kemasyarakatan dan ilmu-ilmu lainnya
  4. Mendidik anak sesuai dengan fitrahnya agar tidak terjadi miss identity sehingga berpeluang kecenderungan LGBT
  5. Mengenali siapa saja yang menjadi musuh Islam, terutama pejunjung 3G dan 4F, jangan sampai salah menuduh saudara seiman menjadi musuh hanya karena berbeda cara pandang dalam masalah furu’ (cabang agama)
  6. Menjauhi sifat wahn (cinta dunia berlebihan dan takut mati) dunia bukanlah tujuan kita melainkan akhirat, jangan sampai silaunya dunia menjadikan kita buta akan hakikat akhirat. Janganlah takut mati karena kematian adalah sebuah keniscayaan, tetapi persiapkanlah kematian
  7. Menuntut ilmu setinggi-tingginya. Memiliki ilmu pengetahuan akan membuat kita kuat berpikir, tidak mudah diperdaya dan mampu membedakan antara haq dan batil. Akan lebih baik jika dengan ilmu pengetahuan dapat memperoleh kekuasaan untuk memerangi jeratan-jeratan iblis yang sudah tersistem dan mendunia.    
  8. Terus memberikan teladan yang baik kepada keluarga maupun masyarakat kita.


Demikianlah beberapa bekal yang harus kita persiapkan untuk menghadapi peperangan ini. Peperangan yang tidak membutuhkan persenjataan nuklir ini namun mampu membuat jutaan remaja menjadi korbannya. Ratusan dari mereka pecandu narkoba, seks bebas, hedonis, gagap, peniru ulung dan kehilangan jati diri serta tauladan. Maka dari itu, sedari dini jadilah generasi kuat, tangguh dan berilmu. Generasi islam itu ada dan akan terus ada, tidak sekedar eksis tapi juga berkualitas. Sehingga takuklah musuh-musuh islam di tangan kalian. Jelas tidak mdah menjalaninya, namun dengan azzam yang kuat, istiqomah dan kesabaran, maka kesulitan-kesulitan itu akan berbuah kemudahan. Wallahu a’lam bi ash-showab.

(Ummu Yasmin)

         

INFO PSB 2018/2019
Formulir PSB 2018